BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       LATAR BELAKANG

 

Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan  informasi untuk menyelesaikan masalah. Sebagai suatu kegiatan sistematis penelitian harus dilakukan dengan metode tertentu yang dikenal dengan istilah metode penelitin,yakni suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan  kegunaan tertentu. Cara ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Dalam melaksanakan kegiatan penelitian, keberadaan instrumen penelitian merupakan bagian yang sangat integral dan termasuk dalam komponen metodelogi penelitian karena instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah yang sedang diteliti.

Suatu intrumen yang baik tentu harus memiliki validitas dan realibitas yang baik. Untuk memperoleh instrument yang baik tentu selain harus diujicobakan, dihitung validitas dan realibiltasnya juga harus dibuat sesuai kaidah-kaidah penyusunan instrument.

Berkaiatan dengan hal tersebut, pada pembahasan ini akan diuraikan berbagai hal terkait dengan instrument penelitian yang pembahasannya diawali dengan pengertian instrumen penelitian, jenis, lagkah-langkah penyusunan

 

B.       Rumusan Masalah

 

1.    Apa yang dimaksud instrumen penelitian ?

2.    Apa saja kategori instrumen penelitian ?

3.    Apa saja jenis-jenis Instrumen penelitian?

4.    apa saja jenis jenis data penelitian?

 

C.       Tujuan Masalah

 

1.    Untuk mengetahui dan mempelajari hal – hal yang berkaitan dengan instrumen penelitian .

2.    Untuk mengetahui apa saja kategori instrumen penelitian.

3.    Untuk mengetahui apa saja kategori instrument penelitian.

4.    Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis data penelitian

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

A.      DEFINISI

 

Instrumen Penelitian yaitu alat ukur yang digunakan dalam penelitian( Sugiyono,  2012).Menurut Suharsimi Arikunto (2013), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.

Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang diteliti.

            Kualitas data sangat menetukan kualitas penelitian. Kualitas data tergantung pada kualitas alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Pada dasarnya terdapat dua kategori instrument yang digunakan dalam penelitian, yakni :

a)    instrument digunakan untuk memproleh informasi atau data tentang keadaan objek atau proses yang diteliti.

b)    Instrumen digunakan untuk mengontrol objek atau proses yang diteliti.

Data kondisi objek atau spesifikasi proses yang diukur dapat diulang dengan menggunakan dua instrument tersebut (Gempur Santoso,  2012:62)

 

B.       INSTRUMEN PENELITIAN UNTUK PENELITIAN KUALITATIF

Satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Peneliti mungkin menggunakan alat-alat bantu untuk mengumpulkan data seperti tape recorder, video kaset, atau kamera. Tetapi kegunaan atau pemanfaatan alat-alat ini sangat tergantung pada peneliti itu sendiri.

Oleh karena dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri,  maka peneliti harus “divalidasi”. Validasi terhadap peneliti, meliputi; pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian -baik secara akademik maupun logiknya (Sugiono,2012).

Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiono,2012).

1.    Peneliti sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a.         Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian,

b.         Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.

c.         Tiap situasi merupakan keseluruhan artinya tidak ada suatu instrumen berupa test atau angket yng dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia.

d.         Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata dan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita.

e.         Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika.

f.          Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau perlakuan (Sugiono 2012).






2.    kelebihan-kelebihan peneliti sebagai instrumen (disebut "Paricipant-Observer") antara lain:

a.         Peneliti dapat langsung melihat, merasakan, dan mengalami apa yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dengan demikian, peneliti akan lambat laut "memahami" makna-makna apa saja yang tersembunyi di balik realita yang kasat mata (verstehen). Ini adalah salah satu tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian kualitatif.

b.         Peneliti akan mampu menentukan kapan penyimpulan data telah mencukupi, data telah jenuh, dan penelitian dihentikan. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dibatasi oleh instrumen (misalnya kuesioner) yang sengaja membatasi penelitian pada variabel-variabel tertentu saja.

c.         Peneliti dapat langsung melakukan pengumpulan data, menganalisanya, melakukan refleksi secara terus menerus, dan secara gradual "membangun" pemahaman yang tuntas tentang sesuatu hal. Ingat, dalam penelitian kualitatif, peneliti memang "mengkonstruksi" realitas yang tersembunyi (tacit) di dalam masyarakat.

3.    Kelemahan peneliti sebagai instrumen (disebut "Paricipant-Observer") antara lain:

a.         Tidak mudah menjaga obyektivitas dan netralitas peneliti sebagai peneliti. Keterlibatan subjek memang bagus dalam penelitian kualitatif, tetapi jika tidak hati-hati, peneliti akan secara tidak sadar mencampuradukkan antara data lapangan hasil observasi dengan pikiran-pikirannya sendiri.

b.         Pengumpulan data dengan cara menggunakan peneliti sebagai instrumen utama ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan peneliti dalam menulis, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian. Peneliti juga harus memiliki sensitifitas/kepekaan dan "insight" (wawasan) untuk menangkap simbol-simbol dan makna-makna yang tersembunyi. Lyotard (1989) mengatakan "lantaran pengalaman belajar ini sifatnya sangat pribadi, peneliti seringkali mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya dalam bentuk tertulis".

c.         Peneliti harus memiliki cukup kesabaran untuk mengikuti dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian dianggap selesai jika kesimpulan telah diambil dan hipotesis telah diketahui statusnya, diterima atau ditolak. Tetapi peneliti kualitatif harus siap dengan hasil penelitian yang bersifat plural (beragam), sering tidak terduga sebelumnya, dan sulit ditentukan kapan selesainya. Ancar-ancar waktu tentu bisa dibuat, tetapi ketepatan jadwal (waktu) dalam penelitian kualitatif tidak mungkin dicapai seperti dalam penelitian kuantitatif.

 

C.       INSTRUMEN PENELITIAN UNTUK PENELITIAN KUANTITATIF

Jika dalam penelitian kualitatif, instrumen penelitian adalah penelitinya sendiri, maka dalam penelitian kuantitatif, instrumen harus dibuat dan menjadi perangkat yang "independent" dari peneliti. Peneliti harus mampu membuat instrumen sebagus mungkin, apapun instrumen itu.

Ada beberapa jenis instrumen yang biasa digunakan dalam penelitian. (Arikunto,2013)yaitu:

1.         Tes

Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

 

 

2.         Angket atau kuesioner.

Kuesioner adalah sebagai alat pengumpul data umumnya terdiri dari serangkaian pertanyaan atau pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi penelitian yang dikehendaki. Untuk menyusun kuesioner yang tepat maka perlu diketahui tentang :

a.       Jenis pertanyaan

b.      Bentuk pertanyaan

c.       Prinsip-prinsip dalam merumuskan isi pertanyaan

 

a.        Jenis-Jenis Pertanyaan

 

1.      Pertanyaan tentang fakta

Biasanya tentang pertanyaan fakta menyatakan tentang fajta diri pribadi respon, misalnya nama, umur ,jurusan, jens kelamin, latar belakang pendidikan, status perkawinan, pekerjaan dan penghasilan.Data ini dapat dipaka untuk mengecek tingkat keterwakilan sampel yang anda pilih. Misalnya anda ingin membandingkan proporsi antara responden wanita dan pria, bekerja dan tidak bekerja. Sampel dianggap mewakili jika proporsi dalam sampel tidak banyak berbeda dengan proporsi dalam populasi.

2.      Pertanyaan tentang opini dan sikap

Pertanyaan tentang opini dan sikap berhubungan dengan perasaan, keyakinan, gagasan, kecenderungan  dan nilai isu yang diteliti. Opini umumnya mengganbarkan sikap yang tidak terbaca.

 

3.      Pertanyaan tentang informasi

Anda dapat menggunakan npertanyaa informasi untuk melacak pengetahuan responden tentang suatu hal, misalnya berapa banyak ia ketahui, dari mana sumbernya, dan kapan pertama kali ia mengetahuinya.

Contoh pertanyaan adalah :

“Apakah yang anda ketahui tentang globalisasi?”

 

 

b.        Bentuk Pertanyaan

Pertanyaan yang kita pakai dalam kuesioner dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

 

1.        Pertanyaan tertutup

Pertanyaan dirancang untuk menjaring jawaban yang telah disediakan pilihannya. Ada beberapa bentuk pertanyaan tertutup yaitu : pertanyaan dua pilihan, pertanyaan pilihan ganda, pertanyaan ceklis, pertanyaan ranking dan pertanyaan berskala.

 

a.       Pertanyaan dua pilihan

Disini responden diberikan pertanyaan dengan satu kemungkinan jawaban, jadi tinggal memilihsatu jawaba diantara dua yaitu : ya ataun tidak.

Cntoh : “apakah anda termasuk anggota pecinta lingkungan hidup”

              (  ) Ya

              (  ) Tidak

 

b.      Pertanyaan pilihan ganda

Bentuk pertanyaan seperti ini biasanya diikuti oleh sejumlah alternati jawaban. Responden diminta untuk memilih jawaban yang tepat. Bentuk pertanyaan ini digunakan jika sudah banyak informasi yang diperoleh sebelumnya. Pilihan jawaban yang disediakan harus bersifat tuntas  artinya dalam meampung segala kemungkinan yang diberikan oleh setiap responden, dan diantara pilihan jawaban yang stu dengan yang lain tidak saling tumpangn tibdih. Contoh “ teknik mengajar apakah yang paling anda sukai dalam program pelatihan ini “?

(Pilih satu jawaban)

(  ) penjelasan dalam bentuk kuliah

(  ) tanya jawab

(  ) diskusi kelompok

(  ) konsultasi individual

 

c.       Pertanyaan ceklis

Bentuk pertanyaan ceklis hampir mirip dengan pilhan ganda. Bedanya, dalam pertanyaan ceklis responden diperbolehkan memilih lebih dari satu jawaban. Pertanyaa ceklis juga dapat diubah menjadi bentuk ‘ya – tidak’.

 

Contoh :

“Apakh alasan anda mengikuti program pendidikan S2 ini ?”

(  ) memperoleh anda pengetahuan dan keterampila

(  ) meningkatkan karier

(  ) mencari pengalaman, mengisi waktu luang

 

d.      Pertanyaaan ranking

Pada pertanyaan ranking, renponden diminta untuk memberikan nomor urut pilihan jawaban tersediakan.

Contoh :

“urutkanlah kegiatan ini sesuai dengan pendapat anda tentang bagaimana sebaiknya meaksanakan tutorial Modul Instrumen Penelitian:

(ginakan angka 1-5, dimana 1 menunjukkan kegiatan ynag paling kurang bermanfaat, sedangkan 5 menunjukkan kegiatan yang paling bermanfaat. Jika ada kegiatan yang sama sekali tidak bermanfaat, berilah angka 0)”

(  ) menerangkan kepada peserta cara menyusun kuesioner

(  ) menunjukkan contoh yang baik dan kurang baik kepada peserta

(  ) menberikan latihan kepada peserta secra individual dalam menyusun      kuesiomer

( ) meminta peserta membaca manual dan diberi kesempatan bertanya bila ada yang kurang dimengerti

(  ) berlatih menyusun kuesioner dalam kelompok kecil

            Bentuk pertanyaan ranking adalah bentuk yang paling sulit, karena banyak menyita energi pikir responden untuk menetukan urutan pilihab jawaban berdasarkan tingkat kepentingannya.

 

e.       Pertanyaan berskala

Pertanyaan yang mengandung jawaban berskala yaitu jawaban yang disusun menurut gradasi atau tingkatan. Responden diminta untuk menyatakan persetujuannya atau penolakannya terhadap pilihan yang disediakan. Pertanyaan berskala mempunyai dua bentuk taitu Tabular dan Bentuk Likert.

1.)    Bentuk tabular

Misalkan saat ini anda ditawari jabatan yang lebih tinggi dari sekarang, tapi dengan beberapa risiko seperti yang tersebut dibawah ini. Sehubungan dengan hal itu maka berilah tanda silang (X) pada kotak yang disediakan untuk menunjukkan apakah anda akan menerima atau menolak jbatan tersebut.

 

Menolak

Kemunngkinan menolak

Berat, tapi tidak menolak

Membahayakan kesehatan

(  )

(  )

(  )

Meninggalkan keluarga cukup lama

(  )

(  )

(  )

Bekerja lebih keras

(  )

(  )

(  )

 

2.)    Bentuk Likert

Berikut ini ada sejumlah pertanyaan mengenai hakikat manuasia. Tunjukkanlah apakah oertanyaan ini juga menggambarkan pendapat anda tentang hakikat manusia. Linngkarilah jawaban yang ada disebelah kanan dari setiap pertanyaan yang anda anggap sesuai.

 

1.      Pada dasarnya manuasia dalah makhluk          STS         TS        S          SS

 yang dapat bekerja sama dengan orang

lain

2.      Hanya ada dua macam manusia, yaitu             STS         TS        S          SS       

lemah dan yang kuat

keterangan : STS = sangat tidak setuju

                     TS = tidak setuju

                     S =  setuju

                     SS = sangat setuju

 

2.      Pertanyaan terbuka

Umumnya bentuk pertanyaan ini tidak disertai pilihan jawaban. Pertanyaan ini digunakan jika informasi yang dimiliki tentang masalah yang diteliti sangat minim. Pertanyaan yang terbuka atau tidak terstruktur, dirancang untuk menjaring jawan bebas ,respondon diminta untuk menyusun sendiri jawabannya, sebab tidak menyediakan jawaban terlebih dahulu.

 

 

 

3.      Pertanyaan setengah terbuka

Bentuk pertanyaan ini biasanya dikuti dengan sejumlah alternatif jawaban tapi juga diberikan kemungkinan pada responden untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan pendapatnya.

Contoh :

menurut anda, apakah seorang anak sebaiknya mencoba mendapatkan pekerjaan yang sama dengan pekerjaan orang tua atau sebaiknya berbeda dengan yang dilakukan oleh orang tuanya?”

(  ) pekerjaan yang sama denngan orang tuanya

(  ) pekerjaan yang sama berbeda dari orang tuanya.

4.      Isi Pertanyaan

Beberapa prinsip perlu dipertimbanngkan dalam merumuskanisi pertanyaan kuesioner. Kuesioner yang baik haruslah juga menciptakan rapport (hubungan simpatetik) yang baik karena kuesioner adalah pengganti kita dalam berhubungan denga responden. Dengan kata lain kuesioner yang baik adalah kuesioner yang memuat pesan yang komunikatif, bersahabt, tidak memata-matai, dan tidak menimbulkan rasa risau. Prinsip-prinsip untuk mencipakan rapport yang baik.

1.    Jangan memasukkan dua hal yang ingin ditanyakan dalam satu pertanyaan secra sekaligus. Pertanyaan seperti ini disebut pertanyaan laras ganda. Pertanyaanini akan membingungkan

Misal : “kapan dan dari sipa anda mengetahui adanya program penghijaun lingkungan?”

2.    Hindari menggunakan kata-kata pengertian yang kabur, tidak jelas dan tidak tegas.

Misal : “ apakah anda sering mengikuti acara penyuluhan pertanian”?

3.    Hindari menggunakan pertanyaan terlalu umum.

Misal : kepada guru SMA kita menanyakan ,

“menurut anda apakah remaja sekarang telah pedul terhadap lingkunganya?”

Kata “remaja” dan “peduli” terhadap ‘lingkungan’ akan mengundang banyak tafsiran dan jawaban dari responden. Disini tidak jelas siapa yang termasuk remaja dan sikap atau tindakan mereka yang man yang menunjukkan bahwa telah peduli terhadap lingkungan.

4.    Hindari penggunaan istilah/kata asing yang tidak dimengerti. Misal respondennya adalah penduduk didaerah terpencil, pertanyaan yang ajukan adalah  :

bagaimana pendapat anda tentang diversifiksi pangan yang dianjurkan oleh pemerintah?”

5.    Hindari pertanyaan yang mengarahkan jawaban responden (leading quastions)

Misal : makanan yang memakai zat pewarna dalah salah satu penyebab tibulnya kanker, anda tidak pernah memakannya bukan?”

6.    Hindari hal-hal yang menyebabkan responden merasa terancam atau terpojokkan. Amati contoh berikut ini :

“dalam sebulan terakhir ini, berapa kali anda memeriksa kebersihan selokan didepan rumah anda?”

Bandingkan dengan pertanyaan ini : “dengan kesibukan anda yang begitu rupa, apakah anda masih ada kesempatan bagi anda untuk mememruksa kebersihan selokan didepan rumah anda?”

7.    Hindari menggunakan pertanyaan negatif.

Misal : “ tidak ada kesalhan pengetikan dalam buku ini”

(1) Ya

(2) Tidak

8.    Selain itu perlu dijelaskan kepda responden mengapa anda bertanya tentang hal tersebut dan bagaimana cara anda menganalisis jawabannya.

9.    Jika pertanyaan umum dan spesifik ditanyakan pada waktu yang bersamaan, maka ajukanlah pertanyaan yang umum dulu. Hindari menyakan pertanyaan yang spesifik lebih dulu kareana akan menyempitkan jawaban.

 

5.      Sistematika Kuesioner

Mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan menarik, mudah untuk dijawab dan langsung berhubungan dengan inti penelitian. Selian itu pertanyaan hendaknya dikelompokkan sesuai dengan topiknya. Urutan pertanyaan hendaknya dimulai dari yang mudah, kemudian sukar pada bagian tengah, dan mudah pada bagian akhir. Disamping itu jangan meletakkan pertanyaan penting pada bagian akhir kuesioner yang panjang.

 

6.      Petunjuk Kuesioner

 

1.      Petunjuk harus singkat namun lengkap, karena petunjuk yang terlalu panjang akan menimbulkan kebingungan, salah tafsir

2.      Perlu penjelasan bahwa jawaban responden tidak ada hubungan dengan nasibnya dan kerahasiaan jawabannya terjamin

3.      Jika ada kata-kata yang pebting, tanyakan dengan menggunakan huruf besar, garis bawah, atau tanda petik (“)

4.      Berilah petunjuk baru jika tipe jawabannya berbeda debgab tipe sebelumnya

5.      Berikanlah contoh jika dianggap perlu

 

7.      Membuat Format Kuesioner

1.      Format harus menarik,misal menggunakan tita atau kertas warna

2.      Format harus menyenangkan untuk dilihat, mudaj diketahui keseluruhannya, serta mengundang jawaban

3.      Aturlah pertanyaan sedemikian rupa sehingga mudah mengisinya

4.      Camtumkan pada amplop dan apda akhir kuesioner alamat untuk mnegembalikan kuesioner

5.      Hindari menggunakan kata ‘kuesioner’ atau ‘ujian’

 

8.      Uji Cobe Kuesioner

Ada dua uji coba yang dilakukan yaitu uji coba nonlapngan dan uji coba lapangan.

1.      Uji coba nonlapangan

2.      Uji coba lapangan

Dalam ujicoba ini kita melibatkan sekitar 20 orang resp[onden yang berasal dari populasi yang sama dengan sampel studi. Uji coba ini maksudnya untuk mengetahui kemudahan cara penggunaanya, tingkat pemahan responden terhadap pertanyaan yang diajukan, komentar dan reaksi mereka serta untuk megetahui kalau ada pertanyaan yang bersifat mendua.

Responden diminta menjelaskan pengertia mereka tentang pertanyaandalam kuesioner dengan menggunakan kata0kata mereka sendiri.hasil uji coba dianalisi sehingga dapat dilihat apakah cara yang diterapkan sudah memuaskan, apakah perlu pertanyaan tambahan, atau perlu mengganti kalimat jika pertanyaan menimbulkan banyak salah pengertian.

3.         Interviu (interview).

Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu

4.         Observasi.

Di dalam artian penelitian observasi adalah mengadakan pengamatan secara langsung, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.

5.         Skala bertingkat (ratings).

Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan harus apa yang dapat diamati responden.

6.         Dokumentasi.

Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti bukubuku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan sebagainya.

 

D.      Langkah-langkah menyusun Instrumen Penelitian

Iskandar (2013) mengemukakan enam langkah dalam penyusunan instrumen penelitian, yaitu:

1.         Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti.

2.         Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi

3.         Mencari indikator dari setiap dimensi.

4.         Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen

5.         Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen

6.         Petunjuk pengisian instrumen.

 

D.       JENIS-JENIS DATA

 

Ø  Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu data primer dan data sekunder.

(1) Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion – FGD) dan penyebaran kuesioner.

(2) Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.

Pemahaman terhadap kedua jenis data di atas diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian.

Ø  Berdasarkan bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang berbentuk angka). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkannya yaitu data diskrit dan data kontinum. Berdasarkan sifatnya, data kuantitatif terdiri atas data nominal, data ordinal, data interval dan data rasio.

Data Kualitatif: data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.

Data Kuantitatif: data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika.

Ø  Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut:

(1) Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya:

(a) Jumlah Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XXX sebanyak 20.

(b) Jumlah siswa laki-laki di SD YYY sebanyak 67 orang.

(c) Jumlah penduduk di Kabupaten ZZZ sebanyak 246.867 orang.

Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).

(2) Data kontinum adalah data dalam bentuk angka/bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum dapat berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinum misalnya:

(a)      Tinggi badan Budi adalah 150,5 centimeter.

(b)      IQ Budi adalah 120.

(c)      Suhu udara di ruang kelas 24o Celcius.

Ø  Berdasarkan tipe skala pengukuran yang digunakan, data kuantitatif dapat dikelompokan dalam empat jenis (tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu:

(1) Data nominal atau sering disebut juga data kategori yaitu data yang diperoleh melalui pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu.  Perbedaan kategori obyek hanya menunjukan perbedaan kualitatif. Walaupun data nominal dapat dinyatakan dalam bentuk angka, namun angka tersebut tidak memiliki urutan atau makna matematis sehingga tidak dapat dibandingkan. Logika perbandingan “>” dan “<” tidak dapat digunakan untuk menganalisis data nominal. Operasi matematika seperti penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), atau pembagian (:) juga tidak dapat diterapkan dalam analisis data nominal. Contoh data nominal antara lain:

  • Jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu: (1)  Laki-laki; (2)  Perempuan

Angka (1) untuk laki-laki dan angka (2) untuk perempuan hanya merupakan simbol yang digunakan untuk membedakan dua kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak memiliki makna kuantitatif, artinya angka (2) pada data di atas tidak berarti lebih besar dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki makna lebih besar dari perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat dilakukan operasi matematika (+, -, x, : ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan, maka (1) + (2) ≠ (3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil penjumlahan (1) dan (2).

  • Status pernikahan yang terdiri dari tiga kategori yaitu: (1) Belum menikah, (2) Menikah, (3) Janda/ Duda. Data tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan data tentang jenis kelamin.

(2) Data ordinaladalah data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang telah disusun secara berjenjang menurut besarnya. Setiap data ordinal memiliki tingkatan tertentu yang dapat diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya. Namun demikian, jarak atau rentang antar jenjang yang tidak harus sama. Dibandingkan dengan data nominal, data ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal urutan. Terhadap data ordinal berlaku perbandingan dengan menggunakan fungsi pembeda yaitu  “>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun dalam suatu urutan, namun belum dapat dilakukan operasi matematika ( +, – , x , : ). Contoh jenis data ordinal antara lain:

  • Tingkat pendidikan yang disusun dalam urutan sebagai berikut:

(1)  Taman Kanak-kanak (TK)

(2)  Sekolah Dasar (SD)

(3)  Sekolah Menengah Pertama (SMP)

(4)  Sekolah Menengah Atas (SMA)

(5)  Diploma

(6)  Sarjana

Analisis terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa SD memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan TK dan lebih rendah dibandingkan dengan SMP. Namun demikian, data tersebut tidak dapat dijumlahkan, misalnya SD (2) + SMP (3) ≠ (5) Diploma. Dalam hal ini, operasi  matematika ( + , – , x, : ) tidak berlaku untuk data ordinal.

  • Peringkat (ranking) siswa dalam satu kelas yang menunjukkan urutan prestasi belajar tertinggi sampai terendah. Siswa pada peringkat (1) memiliki prestasi belajar lebih tinggi dari pada siswa peringkat (2).

(3) Data Intervaladalah data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal. Kelebihan sifat data interval dibandingkan dengan data ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak (equality interval) atau memiliki rentang yang sama antara data yang telah diurutkan. Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat dilakukan operasi matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun demikian masih terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka Nol mutlak pada data interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:

  • Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang dinyatakan dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius sampai  10 Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius sampai  20 Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi matematik ( +, – ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius = 300 Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa benda yang bersuhu 150 Celcius memiliki ukuran panas separuhnya dari benda yang bersuhu 300 Celcius. Demikian juga, tidak dapat dikatakan bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak memiliki suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif (tidak mutlak). Artinya, jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit diperoleh 00 Celcius = 320 Fahrenheit.
  • Kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam IQ. Rentang IQ 100 sampai  110 memiliki jarak yang sama dengan 110 sampai  120. Namun demikian tidak dapat dinyatakan orang yang memiliki IQ 150 tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari urang yang memiliki IQ 100.
  • Didasari oleh asumsi yang kuat, skor tes prestasi belajar (misalnya IPK mahasiswa dan hasil ujian siswa) dapat dikatakan sebagai data interval.
  • Dalam banyak kegiatan penelitian, data skor yang diperoleh melalui kuesioner (misalnya skala sikap atau intensitas perilaku) sering dinyatakan sebagai data interval setelah alternatif jawabannya diberi skor yang ekuivalen (setara) dengan skala interval, misalnya:

Skor (5) untuk jawaban “Sangat Setuju”

Skor (4) untuk jawaban “Setuju”

Skor (3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”

Skor (2) untuk jawaban “Tidak Setuju”

Skor (1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”

Dalam pengolahannya, skor jawaban kuesioner diasumsikan memiliki sifat-sifat yang sama dengan data interval.

(4) Data rasio adalah data yang menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh data nominal, data ordinal, serta data interval. Data rasio adalah data yang berbentuk angka dalam arti yang sesungguhnya karena dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak) sehingga dapat diterapkannya semua bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ). Sifat-sifat yang membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya (nominal, ordinal, dan interval) dapat dilihat dengan memperhatikan contoh berikut:

  • Panjang suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda yang panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2 meter sehingga dapat dibuat kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter (sifat data nominal). Ukuran panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang terpanjang sampai yang terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan perbedaan antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data interval). Kelebihan sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1) Angka 0 meter menunjukkan nilai mutlak yang artinya tidak ada benda yang diukur; serta (2) Benda yang panjangnya 2 meter, 2 kali lebih panjang dibandingkan dengan benda yang panjangnya 1 meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi matematik. Kedua hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data ordinal, ataupun data interval.
  • Data hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki semua sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda secara nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat diurutkan mulai dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya 1 kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara benda yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada benda (berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih berat dibandingkan dengan benda yang beratnya 1 kg.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.       KESIMPULAN

 

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang diteliti. Langkah-langkah dalam penyusunan instrumen penelitian  yaitu dengan  mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti, menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi, mencari indikator dari setiap dimensi, mendeskripsikan kisi-kisi instrumen, merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen, petunjuk pengisian instrumen. Semua instrumen (baik yang tes maupun non tes) harus memiliki dua syarat yaitu Valid dan reliabel. Valid berarti instrumen secara akurat mengukur objek yang harus diukur. Reliabel berarti hasil pengukuran konsisten dari waktu ke waktu.

 

B.       SARAN

 

1.         Bagi Universitas 

Hasil pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan diUniversitas Khususnya di Prodi D-IV Kebidanan. Terutama refesensi atau sumber pustaka yang berkaitan dengan Instrumen Penelitian

 

2.         Bagi Penulis

Diharapkan bagi penulis lain dapat melakukan pembuatan makalah lanjutan yang lebih baik lagi dan membahas lebih mendalam lagi terutama tentang instrumen penelitian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Ibnu Hadjar. 2013. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif  dalam Pendidikan.  Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung:Penerbit Alfabeta.

Arikunto Suharsimi, 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta:Rineka Cipta